Jumat, 06 Juli 2012

Peraturan Pokok Gereja Protestan Maluku - Tentang Gereja - BAB 1

PERATURAN POKOK GEREJA PROTESTAN MALUKU

(KETETAPAN SINODE GPM NOMOR: 09/SND/36/2010)

Tentang
JEMAAT

BAB 1
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Yang dimaksudkan dalam Peraturan Pokok ini dengan:
1. JEMAAT adalah persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus, pada suatu tempat dan lingkungan secara teritorial dan transteritorial tertentu dalam wilayah pelayanan Gereja Protestan Maluku.
2. JEMAAT TERITROIAL adalah persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus pada suatu lingkungan pelayanan jemaat tertentu di dalam wilayah Gereja Protestan Maluku.
3. JEMAAT KATEGORIAL adalah persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus yang didasarkan pada kategori tertentu di dalam wilayah pelayana Gereja Protestan Maluku.
4. JEMAAT KHUSUS adalah persekutuan orang-orang percaya adalah persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus yang sejarah kelahirannya adalah sebagai hasil pekabaran Injil dari dan kepada etnis Tionghoa di wilayah pelayanan Gereja Protestan Maluku.
5. PERSIDANGAN JEMAAT adalah badan pengambilan keputusan tertinggi dalam jenjang kepemimpinan gereja di tingkat Jemaat.
6. MAJELIS JEMAAT adalah Badan Gerejawi yang berfungsi memimpin, mengarahkan pelayanan gereja, memperlengkapi warga jemaat, dan yang mewakili Jemaat berdasarkan Tata Gereja, Peraturan-peraturan dan Keputusan-keputusan Gereja Protestan Maluku.
7. PIMPINAN HARIAN MAJELIS JEMAAT adalah Badan Pelaksan Harian Majelis Jemaat.
8. KETUA MAJELIS JEMAAT adalah Pendeta dan/atau Penginjil yang diangkat dan ditetapkan oleh Majelis Pekerja Harian Sinode dengan surat keputusan.
9. ANGGOTA JEMAAT adalah warga gereja yang terdaftar di jemaat sesuai dengan persyaratan yang telahh ditetapkan.
10. SEKTOR adalah suatu bagian dalam Jemaat yang berdasarkan pembagian wilayah pelayanan dari suatu Jemaat yang meliputi beberapa Unit pelayanan.
11. UNIT pelayanan adalah suatu bagian dalam sektor pelayanan yang meliputi beberapa keluarga.
12. PEMEKARAN JEMAAT adalah upaya pengembangan pelayanan yang berdaya guna dan berhasil guna dengan jalan pengembangan Jemaat baru terhadap wilayah pelayanan jemaat yang terlalu luas dan padat anggotanya
13. PELEMBAGAAN JEMAAT baru adalah pembentukan suatu jemaat baru yang diakibatkan perkembangan terdapat sejumlah orang percaya di suatu tempat tertentu.
14. PENYATUAN JEMAAT adalah penggabungan dua Jemaat atau labih menjadi satu Jemaat baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih kepada sobat sekalian yang sudah masuk ke blog ini. Jangan lupa untuk komentar ya.

Share This Post

Share