Jumat, 13 Juli 2012

Otoritas Alkitab


Alkitab dianggap memiliki kewibawaan yang bukan hanya dari kata-kata saja melainkan ada kebenaran-kebenaran ilahi yang meupakan otoritas Alkitab. Kata-kata yang disampaikan merupakan sarana untuk mencapai tujuan, dan akhirnya adalah kebenaran yang Allah wahyukan. kebenaran itu adalah otoritas yang kita cari.
Otoritas Alkitab tidak bisa dipaksakan kepada orang-orang yang tidak percaya, untuk itu seharusnya pesan Alkitab serta materi kurikulum harus disampaikan dengan sikap menghargai orang lain serta direncanakan sebaik-baik mungkin. Para pengajar lokal diharapkan memiliki dedikasi untuk menerima otoritas tersebut.
Apakah sekarang alkitab mempunyai otoritas?
Alkitab memiliki kekuatan untuk mempengaruhi individu dan kelompok. Ketika orang merespon pesan, mereka menjadi individu yang berubah. Mereka datang untuk mengenal Allah, dan mereka menemukan arti hidup. Kekuatan Alkitab juga diwujudkan dalam hidup dan karya gereja, dari zaman Perjanjian Baru hingga sekarang. Dari zaman Perjanjian Baru hingga sekarang gereja telah serius mengambil Alkitab sebagai otoritas kebenaran dan sungguh-sungguh berusaha untuk menempatkan kebenaran dalam praktik bergereja, gereja yang telah ditandai dengan vitalitas dan kekuatan, membuat kehadirannya terasa sebagai berkat bagi anggota-anggotanya sendiri, untuk kebaikan masyarakat dan untuk mengangkat kemanusiaan pada umumnya
Pengajaran Alkitab dapat membantu memecahkan masalah-masalah besar dalam masyarakat. Nubuat Alkitabiah sangatlah dikenankan pada hal-hal seperti Hak Asasi manusia dan hubungan manusia. Hal ini menawarkan petunjuk bagaimana manusia harus berurusan dengan hubungan ras, hubungan industrial, masalah modal dan tenaga kerja, keluarga, hubungan internasional, perang dan tempat.
Perencana Kurikulum dan pendidik Kristen memenuhi tantangan di titik ini. Mereka harus melakukan segala sesuatu Dalam kekuasaan mereka untuk membawa pesan dari Alkitab untuk menanggung  setiap aspek dalam kehidupan.
Bagaimana Kita Gunakan Alkitab Dengan Integritas?
Fakta bahwa Alkitab ditulis oleh manusia, namun diberikan kuasa ilahi. Tapi, tetap juga manusia. yang ditulis merupakan hasil inspirasi yang kemudian diijinkan untuk untuk mengexpresikan diri mereka dengan cara masing-masing.
Alkitab harus ditafsirkan sesuai dengan sifat wahyu progresif merekam. Allah harus mulai dengan orang-orang di mana mereka, dia harus berurusan dengan mereka sesuai dengan tingkat perkembangan rohani yang mereka telah tercapai.
Itulah sebabnya mengapa begitu banyak dari Perjanjian Lama berdiri diatas kedudukan yang lebih rendah moral dan spiritualnya dibandingkan dengan Perjanjian Baru. Penyataan Allah memuncak dalam Yesus Kristus. Perjanjian Lama pun tidak bisa diabaikan dalam penafsiran. Perjanjian lama seharusnya diperlakukan sebagai persiapan untuk kedatangan Kristus, bukan untuk akhir pekerjaan Tuhan. Jadi, Perjanjian Lama cukup hanya sebagai penyataan Allah.
Alkitab berisikan berbagai bentuk sastra seperti puisi, drama, sejarah, khotbah, perumpamaan, surat, nubuat dan tulisan-tulisan lainnya. Masing-masing penulisan harus diterjemahkan sesuai sifat aslinya. Perumpamaan bukanlah sejarah, dan hukum bukanlah injil; puisi tidaklah selalu berkaitan dengan hal kesastraan, tidak ada pandangan yang  mampu menerangkan dengan menggunakan lambang.
Jujur terhadap Alkitab bukanlah suatu ketakutan melainkan keuntungan dari kritik-kritik terhadap Alkitab. Lagipula, Penyataan mengenai Injil harus selalu digunakan dalam menjaga kerohanian.
Hal yang paling mendasar bahwa Alkitab merupakan buku iman, sebuah buku tentang Allah, semestaNya, keinginanNya, dan PekerjaanNya. Perlu diingat bahwa Alkitab bukanlah buku ilmu pengetahuan karena itu tidak bisa dipaksakan jika Alkitab tidak bisa menjawabnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih kepada sobat sekalian yang sudah masuk ke blog ini. Jangan lupa untuk komentar ya.

Share This Post

Share