Rabu, 07 Maret 2012

Hikmat Salomo: Kritik Naratif 1 Raja-Raja 3:16-28


KRITIK NARATIF
1 RAJA-RAJA 3:16-28
Dalam tulisan  ini akan membahas sub bagian yang akan dibagi dalam kerangka sebagai berikut:

2.1.PLOT
a. Pendahuluan/Eksposisi
b. pengembangan
c. penutup
2.2.PENOKOHAN
a. Tokoh utama
b. tokoh pendamping
c. agen
2.3.LATAR
a. Latar tempat
b. Latar Waktu
c. Latar Suasana
2.4.NARATOR
2.5.SUDUT PANDANG

2.1.PLOT
Dalam cerita ini, jenis plotnya yaitu plot kesatuan karena cerita ini mempunyai hubungan dengan cerita/episode yang ada sebelum maupun setelah cerita ini. Dalam plot kesatuan dan juga dalam cerita ini, setiap episode mengandaikan episode yang lain. Contohnya saja cerita mengenai hikmat Salomo ini, sudah dijelaskan atau diandaika dalam episode sebelumnya yaitu mengenai “Doa Salomo memohon hikmat”
Marthin Suhartono maupun Goris Keraf sama-sama membagikan Plot kedalam tiga bagian yang sama namun dengan istilah yang berbeda-beda.

a.      Pendahuluan

Dalam pedahuluan atau juga disebut sebagai eksposisi, digambarkan tentang penjelasan tentang konflik atau berupa suatu pengantar kedalam konflik yang sebenarnya/ titik puncak konflik. Menurut Mathin Suhartono dalam bukunya Kisah dalam Kasih, dalam bagian pendahuluan ini juga terdapat konflik-konflik awal yang akan mempengaruhi kejadian seterusnya.

Dalam teks yang akan kita bahas 1 Raj. 3: 16-28, bisa kita temui pendahuluan dengan begitu jelas dari ayat 16-21. Menurut saya dalam rangkaian penjelasan sebagai pendahuluan narator coba untuk menjelaskan ayat-ayat tersebut dengan jelas dimana dua orang perempuan sundal yang hidup dalam rumah yang sama, dan melahirkan masing-masing seorang bayi yang hanya beda tiga hari antara ibu yang satu dengan ibu yang lain. Mereka berdua hanya tinggal sendiri didalam rumah tanpa ada orang-orang yang lain.

Konflik dalam pendahuluan ini berawal dari matinya seorang anak karena ibunya yang ceroboh sehingga menimbulkan perdebatan antara kedua ibu tersebut, masing-masing mempertahankan bahwa anak yang masih hidup merupakan anak dia, sedangkan mereka mengabaikan anak yang sudah mati terebut, namun anak yang sudah mati bukan menjadi fokus pembahasan melainkan anak yang masih hidup tersebut yang direbutkan kedua ibu tersebut.

Langkah awal untuk mengatasi konflik awal ini adalah, kedua ibu ini membawa perkara tersebut kepada raja (Salomo). Namun, dengan adanya solusi awal ini merupakan suatu gerakan bagi konflik yang mencapai puncaknya. Dengan kata lain penyelesaian awal ini bukan menjadi akhir dari konflik, melainkan membuka konflik yang sebenarnya yang akan terjadi.

b.     Perkembangan

Dalam perkembangan terdapat Titik Puncak (climax) dan Titik Balik (turning point). Menurut Marthin Suhartono, titik puncak adalah “momen tertinggi yang dicapai oleh tokoh” dalam mencapai titik puncak, situasi yang dialami bukan hanya keadaan yang terbaik saja melainkan juga mencapai keadaan yang terburuk.

Dalam teks yang kita bahas, titik puncak dari kisah bisa kita amati dan ditemukan dalam ayat 22-26. Dimana terjadi perbedaan pendapat atau pertengkaran mulut antara kedua ibu tersebut dihadapan Salomo sebagai seorang Raja.


Perempuan yang satu mengatakan:

“BUKAN!!! Anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati.”

Tetapi perempuan yang lain berkata pula

“BUKAN!!! Anakmulah yang mati dan anakulah yang hidup.”

Dari dialog diatas menunjukan bahwa terjadi klimaks dalam cerita/ bagian yang dibahas, dimana terjadi pertengkaran/perbedaan pendapat antara dua orang perempuan sundal yang saling memperebutkan anak yang masih hidup.

Selanjutnya, Salomo mengatasi hal tersebut dengan memberikan sebuah solusi berdasarkan hikmat yang dimilikinya dari YAHWEH. Salomo dengan tuntutan hikmatnya menginginkan agar anak yang menjadi perebutan antara dua perempuan sundal tersebut dipenggal menjadi dua bagian. Itu bukan berarti bahwa Salomo adalah orang yang kejam dan tidak berbelas kasihan, namun yang dilakukannya hanyalah merupakan gertakan terhadap kedua ibu tersebut sehingga Salomo bisa mengetahui mana ibu dari anak yang masih hidup ini lewat respon yang baik yang layak dianggap sebagai jawaban atas ibu yang benar-benar memperanakan anak yang masih hidup tersebut.

c.      Penutup

Dalam akhir sebuah cerita biasanya kita kenal istilah open ending dan juga close ending. Untuk bagian teks ini cerita  berakhir secara open ending yang berarti secara harafiah; akhir yang terbuka atau yang lebih jelasnya akhir dari sebuah cerita yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari dalam diri pembaca.

Mengapa dikatakan berakhir secara open ending? menurut saya teks tidak menjelaskan apa yang terjadi atas kedua perempuan sundal tersebut setelah keputusan Salomo diambil terhadap kasus mereka. Apakah mereka masih hidup bersama-sama lagi? Apakah yang dilakukan Salomo terhadap perempuan sundal yang jahat tersebut?. Pertanyaan-pertanyaan di atas menjelaskan kalau memang cerita tentang hikmat salomo ini berakhir secara Open Ending.

Walau demikian narator menutup kisahnya dengan sebuah konklusi dimana orang Israel yang mendengar mengenai hukum yang diberikan Salomo, kemudian menjadi takut terhadap Salomo. Sebab mereka melihat bahwa hikmat tersebut datang dari Allah untuk membawa keadilan

2.2.PENOKOHAN
Yang berperan dalam cerita ini yaitu:
-         Salomo
-         Perempuan sundal 1
-         Perempuan sundal 2
-         Pengawal kerajaan
-         Orang-orang banyak ( Israel )

a.     Tokoh Utama

Dalam kisah ini, yang menjadi tokoh utama adalah Salomo. Hal yang membuat dia layak disebut sebagai tokoh utama karena dia paling sering disebut dan menjadi fokus teks yang dibahas.

Salomo digambarkan sebagai tokoh yang mempunyai karakter yang dinamis karena sikapnya yang seringkali bimbang dan berubah-ubah. Namun dia juga bisa dikatakan sebagai tokoh yang memegang peranan penting dalam cerita dimana ia yang mempunyai hikmat yang berasal dari Allah untuk menghadapi kasus kedua perempuan tersebut.

Salomo juga merupakan orang yang berwibawa dan tegas, hal lain juga bahwa salomo adalah seorang demokratis yang unggul, dimana ia mendengar apa yang disampaikan dan juga merupakan perdebatan yang dilakukan oleh kedua perempuan itu sampai selesai. Ini menunjukan bahwa Salomo merupakan tokoh yang terbuka dengan pendapat yang disampaikan orang lain, ia mau mendengar apa yang orang lain sampaikan.

b.     Tokoh Pendamping

Dalam kisah ini yang menjadi tokoh perndamping yaitu kedua perempuan sundal tersebut,

Perempuan sundal yang pertama merupakan pendamping yang melawan karakterisasi dari tokoh utama, dari cerita dapat disimpulkan bahwa dia merupakan seorang perempuan yang pandai berbohong, juga merupakan seorang ibu yang tidak bertanggung jawab terhadap anaknya. Dalam cerita, perempuan sundal yang pertama ini digambarkan sebagai tokoh yang statis dan flat karakternya. Ia digambarkan sebagai seorang yang jahat dan pandai berbohong.

Dalam cerita juga ia digambarkan sebagai tokoh yang aktif dan banyak berbicara untuk membela diri, namun apa yang dibelanya menjadi senjata buat kekalahannya sendiri dimana ia mengatakan bahwa Perempuan yang lain mengambil anak pada saat dia tidur, dan baru ia terjaga pada waktu pagi. Ini merupakan suatu bukti bahwa ia sendirilah yang bersalah* karena tidak mungkin seorang ibu akan tidur sampai pagi baru terjaga, apalagi baru melahirkan, pasti seorang ibu mempunyai insting/naluri yang kuat terhadap apa yang terjadi dengan anaknya. Apalagi sampai anak tersebut ditukar dan berpindah tangan.

Perempuan sundal yang kedua, berbeda dengan perempuan sundal yang pertama, perempuan yang ini dalam cerita ia digambarkan sebagai tokoh yang pasif dan tidak begitu menonjol, seakan-akan dialah yang disalahkan. Namun, dia merupakan tokoh yang baik dan memiliki karakter  statis. Walau sering dipojokam oleh perempuan sundal yang pertama, ia juga membela dirinya.

c.      Agen

Dalam penokohan, penting juga untuk membahas agen yang terdapat dalam cerita, karena pada hakekatnya sebuah cerita pasti ditemukan agen. Agen menurut Marthin Suhartono, merupakan tokoh yang tak penting yang hanya dipakai untuk lebih menampilkan tokoh-tokoh utama.

Cerita mengenai hikmat Salomo ini juga mempunyai agen/tokoh sampingan yaitu orang-orang banyak (orang-orang Israel). Mereka digambarkan sebagai orang-orang yang mendengar tentang keputusan Salomo sehingga mereka menjadi takut kepada Salomo yang berkhimat yang berasal dari Allah untuk menegakan keadilan.

 

*Memang sulit untuk menentukan perempuan yang mana, yang mempunyai bayi yang masih hidup tersebut, dalam berbagai alkitab dalam terjemahan bahasa lain seperti bahasa inggris seperti New King James Version, New International Version, menerjemahkan bahwa, salomo menyuruh para pengawal untuk memberikan bayi tersebut kepada perempuan sundal yang pertama. Itu berarti bahwa perempuan sundal yang pertamalah yang mempunyai anak tersebut

Orang-orang Israel digambarkan sebagai tokoh yang begitu penting, mereka hanya mendukung tokoh utama, dalam hal ini mereka digambarkan sebagai orang-orang yang menegaskan bahwa hikmat Allah yang ada pada Salomo benar-benar berasal dari Allah dan hikmat itu bisa membawa keadilan. Dan mereka pun menjadi takut terhadap Salomo.

2.3.LATAR
                Dalam menjelakan latar hal yang perlu kita lihat dan akan dibaha sebagai berikut.
a.     Latar Tempat

Tempat yang dimaksudkan disini adalah tempat yang dikisahkan dalam cerita mengenai Salomo ini, jadi bukan tempat saat berkisah.

Tempat-tempat yang muncul dalam cerita ini antara lain

·        Rumah di mana kedua perempuan sundal tersebut tinggal. Keadaan mereka sebagai perempuan sundal mengakibatkan mereka harus mengasingkan diri dan hidup dalam sebuah rumah.

Rumah ini merupakan tempat terjadi perkara dimana salah satu perempuan sundal menukarkan anaknya yang sudah mati dengan anak dari perempuan yang lain.

·        Kerajaan atau Istana. Kerajaan merupakan tempat yang dimana berlangsungnya klimaks dari cerita ini. Dari tempat ini juga salomo mengambil keputusan berdasarkan hikmat yang diberikan TUHAN.

b.     Latar Waktu

Waktu yang akan dibahas adalah waktu yang dikisahkan yaitu kapan terjadinya konflik. Dalam cerita ini bisa dikatakan konflik terjadi pada saat pagi maupun siang hari karena belum ada pergeseran waktu yang di jelaskan oleh si narator sesaat sebelum terjadinya konflik, jadi waktu yang bisa dipakai adalah pagi atau siang.

c.      Latar Suasana
Suasana dalam cerita adalah menegangkan dimana pertengkaran antara dua perempuan yang masih mempermasalahkan anak yang masih hidup tersebut dan salomo mendengar sekaligus membiarkan mereka menyampaikan pendapat mereka masing-masing sehingga bisa dikatakan suasana pada saat itu menegangkan dan tidak bersahabat.

2.4.NARATOR

                        Narator merupakan suara yang berkisah atau mengkisahkan kisah. Dalam cerita ini, kompentensi narator sebagai narator yang mahatahu.  Hal ini bisa kita lihat saat narator menceritakan tentang belas kasihan yang dirasakan salah satu perempuan sundal yang merupakan ibu dari anak tersebut. Disitu narator menjelaskan sesuatu yang diluar kemampuan mengetahui sesuatu seperti biasanya, narator disebut sebagai mahatahu karena disini ia tahu apa yang dirasakan orang lain.

Sesuai dengan peranannya, narator tidak ditokohkan. Dia hanyalah sebagai suara yang menceritakan kisah ini. Dalam menjelaskan kisah ini, narator sering menggunakan cara showing (memperlihatkan) namun juga ia sering menggunkan cara telling (mengatakan)

2.5.SUDUT PANDANG

Dalam kisah ini, narator menuturkan cerita berdasarkan apa yang dia tahu, namun dalam pengembangan selanjutnya, narator menceritakan kisah dengan menggunakan apa yang dipikirkan atau perspektif dari Salomo.
                                Berdasarkan penggolongannya sudut pandang dari cerita ini adalah sudut pandang internal hal ini disebabkan karena narator maha tahu yang bisa menjelaskan sesuatu yang sifatnya tidak bisa diketahui pada umumnya seperti perasaan seorang ibu terhadap anaknya yang mau dipenggal.

Relevansi
Cerita mengenai Hikmat Salomo ini, sangat menarik dan mempunyai makna-makna teologis yang relevan bagi kehidupan sekarang ini. Sikap yang ditampilkan Salomo sebagai orang yang mendapat Hikmat dari Allah patut kita contohi. Salomo dalam mengambil keputusan tidak terburu-buru, namun ia mengawali semuanya itu dengan mendengar apa yang menjadi masalah dari kedua perempuan tersebut. Kemampuannya mendengar orang lain menandakan kepekaan terhadap penghargaan suara orang lain ( rakyat biasa ). Dengan mendengar pun ia menjadi seorang raja yang turut mendengar apa yang menjadi persoalan rakyatnya.
                Cerita Salomo ini menyadarkan kita akan kepekaan telinga yang kita punya terhadap lingkungan sesama manusia. Namun penting juga jika kita ingin mengambil keputusan dalam suatu perkara sebaiknya mendengar merupakan tahap awal. Kemudian harus tenang. Karena dengan daya tenang di butuhkan untuk membangun hubungan dengan Allah. hal ini juga dilakukan oleh Salomo karena dia mendapat Hikmat yang berasal dari TUHAN.
               

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih kepada sobat sekalian yang sudah masuk ke blog ini. Jangan lupa untuk komentar ya.

Share This Post

Share